|
Tipe Adverbial Clause
|
Conjunction
|
Contoh Adverbial Clause dalam Kalimat
|
|
Time
|
after, as, as long as, as soon as, at last,
before, by the time, during, everytime, no, once, since, then, till, until,
when, whenever, while
|
After I studied, I
feel tired
|
|
I feel sad when
she’s gone
|
||
|
Don’t let me go while you still need me
|
||
|
Place
|
anywhere, everywhere, now where, where, wherever
|
I will visit a city where my old friend
lives now.
|
|
Contrast
|
although, as the time, but, even if, even
though, on the other hand, still, though, whereas, while, yet
|
Although many
friends confronted her ambition, Yulia went forward such a tank.
|
|
Though I’m annoyed, I try to think
positively.
|
||
|
Cause & Effect
|
as, as long as, because, due to the fact
that, how, inasmuch as, since, so..that, such..that, that
|
Because she had free
time during last holiday, she rearranged her house.
|
|
Reason
|
in case, in order that, in the hope that,
least, so that, to the end that
|
The woman cooks by herself in order
that her family gets the best nutrition.
|
|
Rian drove fast so that he
could arrived on time.
|
||
|
Condition
|
as long as/in so far as, even if, if,
if..not, in case (that), in the event that, on condition that, only if,
otherwise, provided/providing (that), suppose/supposing that, unless, whether
or not
|
I’ll come to the party only if you
accompany me.
|
|
As long as you
follow the traffic regulation, you won’t be ticketed.
|
||
|
Unless the TV
viewers gave her donations, she would not be able to buy gold, rice field, and house .
|
||
|
Do not forget to bring your boots, otherwise
your feets will probably blister.
|
||
|
Manner
|
as, how, in that, the way
|
I wonder how I learn
grammar uneffectively for almost fifteen years.
|
|
We sometimes do not realize the way God
help us.
|
Tuesday, April 16, 2013
Type of Clause
Sunday, March 17, 2013
Don't leave me alone
When you come
I was not aware of your
presence
When you say hello
I just smiled like a
gale
And you never give up
A thousand ways you did
for me
It does not matter
whether I know it or not
With sincerity you do
all of that
But when I began to
realize
When you are no longer
there for me
And gone forever
Leave me alone without
a parting
I'm sorry that you have
missed
At the end of the rest
of your life
Development Economics
Coping
with New Chanllenges, Especially Globalization
Development
economics fell into disrepute in the West, especially in the USA, with the rise
of neo-liberalism from the late seventies.
The
eighties began with Carter appointee US Federal Reserve chief Paul Volcker’s
sharp reversal of developing country growth of the seventies, with the UN
promise of a New International Economic Order. The Reagan-Thatcher decade began
with the debt crises of Latin America, Africa, Eastern Europe, Korea and the
Philippines, enabling the post-Bretton Woods International Monetary Fund (IMF)
to take over macroeconomic policy with its stabilization policies and the World
Bank to require indebted governments to abandon development policies in favour
of economic liberalization through structural adjustment policies.
Meanwhile,
however, the protests at Seattle and since have continued to remind the world
that all is not well with liberalization, with its international manifestation
in the form of globalization. It is therefore useful to begin reconsidering
development economics by the issues exacerbated by the current phase of
globalization. Economic globalization poses serious challenges to the
developing world, so much so that many in the South now think of globalization
as inimical to development.
Since
one size does not necessarily fit all, there is no universal formula for
desirable national level reforms to cope with globalization. The big challenge
for economic policy and regulation then is really at the international level.
The governance of international organizations -- such as the Bretton Woods
institutions and the WTO -- has to be fundamentally reformed in favour of
equitable and sustained development, rather than assuming that liberalization
and globalization will somehow miraculously achieve this objective.
Sumber : http://www.jomoks.org/popular/popular.htm
Friday, December 7, 2012
Manusia dan Harapan
Manusia dan
Harapan
Harapan itu adalah
sebuah keinginan. Setiap manusia di dunia ini pasti mempunyai harapan di
hidupnya masing-masing. Harapan itu timbul ketika kita mengingkan sesuatu
tetapi belum tercapai sampai saat ini. Berhasil atau tidaknya suatu harapan tergantung dari usaha orang
tersebut. Jika kita bersungguh sungguh mencapai harapan kita, maka harapan kita
akan terwujud. Harapan itu biasanya menyangkut dengan masa depan hidup kita
yang kita inginkan. Kita pasti mengharapkan yang terbaik
untuk hidup kita.
Harapan juga bisa
diartikan sebagai mimpi atau cita-cita , karena jika kita ingin mimpi atau
cita-cita kita menjadi kenyataan, kita harus selalu berusaha dan berdoa. Namun,
tidak semua yang kita harapkan akan menjadi kenyataan, karena semua itu sudah
ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa, kita sebagai manusia hanya bisa berusaha
dan berdoa, setelah itu kita harus memasrahkan semuanya kepada-Nya.
Contoh sederhana seseorang yang memiliki
harapan yaitu ketika seseorang tersebut ingin sekali membuat orang tuanya
bangga, maka untuk mewujudukan harapannya tersebut, seseorang tersebut selalu
belajar dengan rajin setiap harinya dan berdoa. Sehingga, atas kerja kerasnya, akhirnya
dia pun menjadi juara di sekolahnya dan orang tuanya pun sangat bangga
terhadapnya. Jadi, harapan itu sebenarnya bisa dengan mudah kita capai, apabila
kita sungguh-sungguh ingin mewujudukannya.
Friday, November 30, 2012
Manusia dan Kegelisahan
Manusia dan Kegelisahan
Kegelisahan
adalah kekhawatiran atau kecemasan seseorang terhadap suatu hal. Kegelisahan
itu dapat terjadi apabila sesorang sedang merasa takut atau khawatir terhadap
suatu hal, sehingga tidak tenang hati dan tingkah lakunya, maka orang tersebut
akan merasa gelisah. Kegelisahan juga merupakan suatu ekspresi dari kecemasan,
karena itu dalam kehidupan sehari-hari, kegelisahan juga diartikan sebagai
kecemasan, kekhawatiran ataupun ketakutan.
Contoh dari
kegelisahan misalnya, jika seorang anak pergi ke luar tidak pamit dengan orang
tuanya, maka orang tua anak tersebut pasti akan merasa gelisah. Namun terkadang
gelisah juga dapat membuat seseorang menjadi frustasi. Misalnya jika ada seorang
anak yang sedang sakit parah, tetapi menurut dokter , anak tersebut tidak bisa
disembuhkan. Maka akan membuat orangtua tersebut menjadi gelisah yang
berkepanjangan sehingga timbulah rasa frustasi.
Jadi, cara
mengatasi kegelisahan itu adalah mulai dari diri kita sendiri, yaitu kita harus
bersikap tenang. Dengan sikap tenang kita dapat berpikir jernih, sehingga kita
dapat mengatasi segala kesulitan yang sedang kita alami. Setelah itu, kita
harus memasrahkan semua yang terjadi kepada Tuhan. Dengan cara tersebut, maka
kita akan selalu berpikir positif, sehingga tidak akan merasa gelisah.
Friday, November 23, 2012
Manusia dan Tanggung Jawab
Manusia dan Tanggung Jawab
Tanggung
jawab adalah kesadaran dari diri manusia akan tingkah laku dan perbuatannya,
baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggung jawab itu adalah
bagian dari kehidupan manusia. Oleh karena itu, semua manusia harus memiliki
rasa tanggung jawab, karena segala sesuatu yang kita lakukan pasti dibutuhkan
pertanggungjawabannya. Jika tidak, maka akan ada pihak lain yang memaksa
tanggung jawab itu.
Misalnya,
ada seseorang pemuda yang sedang membawa motor, lalu dengan tidak sengaja,
pemuda itu menabrak seorang nenek-nenek yang sedang menyebrang di jalanan.
Walaupun pemuda itu tidak sengaja, tetapi dia harus mempertanggungjawabkannya.
Apabila pemuda itu tidak mau bertanggungjawab, maka pihak lain seperti polisi
atau warga akan memaksa pemuda itu untuk bertanggung jawab.
Tanggung
jawab juga berkaitan dengan kewajiban. Maka tanggung jawab dalam hal ini adalah
tanggung jawab terhadap kewajibannya.Tanggung jawab timbul karena manusia itu
hidup bermasyarakat dan hidup dalam lingkungan alam. Manusia merasa
bertanggungjawab karena ia menyadari akibat baik atau buruk perbuatannya itu,
dan menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan pengabdian atau pengorbanannya
Thursday, November 15, 2012
Manusia dan Pandangan Hidup
Manusia dan Pandangan Hidup
Setiap
manusia pasti mempunyai pandangan hidup, karena pandangan hidup itu dapat
menentukan masa depan seseorang. Jadi pandangan hidup itu dapat diartikan
sebagai pendapat atau pertimbangan yang
dijadikan pegangan, pedoman, arahan, dan petunjuk hidup di dunia. Jika
seseorang tidak mempunyai pandangan hidup, maka ia akan tidak jelas dalam
hidupnya, karena kalau kita mempunyai pandangan hidup, maka kita akan mempunyai
pedoman, arahan, atau petunjuk untuk menjalani hidup di dunia ini menjadi lebih
baik.
Pandangan hidup juga bisa diartikan
yaitu dengan mengagumi seseorang dan mencontoh kebaikan orang tersebut, maka
secara tidak langsung kita bisa menganggap orang tersebut menjadi salah satu pedoman hidup kita. Misalnya jika kita
mengagumi sesorang karena keberhasilannya dalam bekerja. Maka kita akan
mencontoh kebaikan dan hal-hal positif yang dilakukan orang tersebut, agar kita
bisa menjadi sukses seperti mereka atau menjadi lebih baik lagi dengan cara
kita sendiri dan tetap menjadi diri kita sendiri.
Pandangan hidup juga mempunyai unsur-unsur yaitu cita-cita,
kebajikan, usaha, keyakinan / kepercayaan. Yang dimaksud dengan cita-cita
adalah suatu keinginan manusia yang dapat dicapai dengan usaha, kerja keras dan
perjuangan. Sedangkan tujuan yang akan dicapai adalah kebajikan. Kebajikan itu
adalah segala sesuatu hal yang baik yang dapat membuat manusia hidup makmur, bahagia, damai dan tentram. Usaha
atau perjuangan adalah kerja keras yang dilandasi keyakinan/kepercayaan.
Keyakinan/kepercayaan diukur dengan kemampuan akal, kemampuan jasmani, dan
kepercayaan kepada Tuhan.
Subscribe to:
Posts (Atom)