Tuesday, April 16, 2013

Type of Clause


Tipe Adverbial Clause
Conjunction
Contoh Adverbial Clause dalam Kalimat
Time

after, as, as long as, as soon as, at last, before, by the time, during, everytime, no, once, since, then, till, until, when, whenever, while
After I studied, I feel tired

I feel sad  when she’s gone

Don’t let me go while you still need me

Place

anywhere, everywhere, now where, where, wherever
I will visit a city where my old friend lives now.

Contrast

although, as the time, but, even if, even though, on the other hand, still, though, whereas, while, yet
Although many friends confronted her ambition, Yulia went forward such a tank.

Though I’m annoyed, I try to think positively.

Cause & Effect

as, as long as, because, due to the fact that, how, inasmuch as, since, so..that, such..that, that
Because she had free time during last holiday, she rearranged her house.

Reason

in case, in order that, in the hope that, least, so that, to the end that
The woman cooks by herself in order that her family gets the best nutrition.

Rian drove fast so that he could arrived on time.

Condition

as long as/in so far as, even if, if, if..not, in case (that), in the event that, on condition that, only if, otherwise, provided/providing (that), suppose/supposing that, unless, whether or not
I’ll come to the party only if you accompany me.

As long as you follow the traffic regulation, you won’t be ticketed.

Unless the TV viewers gave her donations, she would not be able to buy gold, rice field, and house .

Do not forget to bring your boots, otherwise your feets will probably blister.

Manner

as, how, in that, the way
I wonder how I learn grammar uneffectively for almost fifteen years.

We sometimes do not realize the way God help us.



Sunday, March 17, 2013

Don't leave me alone



When you come
I was not aware of your presence
When you say hello
I just smiled like a gale

And you never give up
A thousand ways you did for me
It does not matter whether I know it or not
With sincerity you do all of that

But when I began to realize
When you are no longer there for me
And gone forever
Leave me alone without a parting

I'm sorry that you have missed
At the end of the rest of your life

Development Economics


Coping with New Chanllenges, Especially Globalization

Development economics fell into disrepute in the West, especially in the USA, with the rise of neo-liberalism from the late seventies.
The eighties began with Carter appointee US Federal Reserve chief Paul Volcker’s sharp reversal of developing country growth of the seventies, with the UN promise of a New International Economic Order. The Reagan-Thatcher decade began with the debt crises of Latin America, Africa, Eastern Europe, Korea and the Philippines, enabling the post-Bretton Woods International Monetary Fund (IMF) to take over macroeconomic policy with its stabilization policies and the World Bank to require indebted governments to abandon development policies in favour of economic liberalization through structural adjustment policies.
Meanwhile, however, the protests at Seattle and since have continued to remind the world that all is not well with liberalization, with its international manifestation in the form of globalization. It is therefore useful to begin reconsidering development economics by the issues exacerbated by the current phase of globalization. Economic globalization poses serious challenges to the developing world, so much so that many in the South now think of globalization as inimical to development.
Since one size does not necessarily fit all, there is no universal formula for desirable national level reforms to cope with globalization. The big challenge for economic policy and regulation then is really at the international level. The governance of international organizations -- such as the Bretton Woods institutions and the WTO -- has to be fundamentally reformed in favour of equitable and sustained development, rather than assuming that liberalization and globalization will somehow miraculously achieve this objective.

Sumber : http://www.jomoks.org/popular/popular.htm

Friday, December 7, 2012

Manusia dan Harapan



Manusia dan Harapan

Harapan itu adalah sebuah keinginan. Setiap manusia di dunia ini pasti mempunyai harapan di hidupnya masing-masing. Harapan itu timbul ketika kita mengingkan sesuatu tetapi belum tercapai sampai saat ini. Berhasil atau tidaknya suatu harapan tergantung dari usaha orang tersebut. Jika kita bersungguh sungguh mencapai harapan kita, maka harapan kita akan terwujud. Harapan itu biasanya menyangkut dengan masa depan hidup kita yang kita inginkan. Kita pasti mengharapkan yang terbaik untuk hidup kita.
Harapan juga bisa diartikan sebagai mimpi atau cita-cita , karena jika kita ingin mimpi atau cita-cita kita menjadi kenyataan, kita harus selalu berusaha dan berdoa. Namun, tidak semua yang kita harapkan akan menjadi kenyataan, karena semua itu sudah ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa, kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, setelah itu kita harus memasrahkan semuanya kepada-Nya.
 Contoh sederhana seseorang yang memiliki harapan yaitu ketika seseorang tersebut ingin sekali membuat orang tuanya bangga, maka untuk mewujudukan harapannya tersebut, seseorang tersebut selalu belajar dengan rajin setiap harinya dan berdoa. Sehingga, atas kerja kerasnya, akhirnya dia pun menjadi juara di sekolahnya dan orang tuanya pun sangat bangga terhadapnya. Jadi, harapan itu sebenarnya bisa dengan mudah kita capai, apabila kita sungguh-sungguh ingin mewujudukannya.

Friday, November 30, 2012

Manusia dan Kegelisahan



Manusia dan Kegelisahan
Kegelisahan adalah kekhawatiran atau kecemasan seseorang terhadap suatu hal. Kegelisahan itu dapat terjadi apabila sesorang sedang merasa takut atau khawatir terhadap suatu hal, sehingga tidak tenang hati dan tingkah lakunya, maka orang tersebut akan merasa gelisah. Kegelisahan juga merupakan suatu ekspresi dari kecemasan, karena itu dalam kehidupan sehari-hari, kegelisahan juga diartikan sebagai kecemasan, kekhawatiran ataupun ketakutan.
Contoh dari kegelisahan misalnya, jika seorang anak pergi ke luar tidak pamit dengan orang tuanya, maka orang tua anak tersebut pasti akan merasa gelisah. Namun terkadang gelisah juga dapat membuat seseorang menjadi frustasi. Misalnya jika ada seorang anak yang sedang sakit parah, tetapi menurut dokter , anak tersebut tidak bisa disembuhkan. Maka akan membuat orangtua tersebut menjadi gelisah yang berkepanjangan sehingga timbulah rasa frustasi.
Jadi, cara mengatasi kegelisahan itu adalah mulai dari diri kita sendiri, yaitu kita harus bersikap tenang. Dengan sikap tenang kita dapat berpikir jernih, sehingga kita dapat mengatasi segala kesulitan yang sedang kita alami. Setelah itu, kita harus memasrahkan semua yang terjadi kepada Tuhan. Dengan cara tersebut, maka kita akan selalu berpikir positif, sehingga tidak akan merasa gelisah.



Friday, November 23, 2012

Manusia dan Tanggung Jawab



Manusia dan Tanggung Jawab
Tanggung jawab adalah kesadaran dari diri manusia akan tingkah laku dan perbuatannya, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggung jawab itu adalah bagian dari kehidupan manusia. Oleh karena itu, semua manusia harus memiliki rasa tanggung jawab, karena segala sesuatu yang kita lakukan pasti dibutuhkan pertanggungjawabannya. Jika tidak, maka akan ada pihak lain yang memaksa tanggung jawab itu.
Misalnya, ada seseorang pemuda yang sedang membawa motor, lalu dengan tidak sengaja, pemuda itu menabrak seorang nenek-nenek yang sedang menyebrang di jalanan. Walaupun pemuda itu tidak sengaja, tetapi dia harus mempertanggungjawabkannya. Apabila pemuda itu tidak mau bertanggungjawab, maka pihak lain seperti polisi atau warga akan memaksa pemuda itu untuk bertanggung jawab.
Tanggung jawab juga berkaitan dengan kewajiban. Maka tanggung jawab dalam hal ini adalah tanggung jawab terhadap kewajibannya.Tanggung jawab timbul karena manusia itu hidup bermasyarakat dan hidup dalam lingkungan alam. Manusia merasa bertanggungjawab karena ia menyadari akibat baik atau buruk perbuatannya itu, dan menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan pengabdian atau pengorbanannya


Thursday, November 15, 2012

Manusia dan Pandangan Hidup


Manusia dan Pandangan Hidup
Setiap manusia pasti mempunyai pandangan hidup, karena pandangan hidup itu dapat menentukan masa depan seseorang. Jadi pandangan hidup itu dapat diartikan sebagai pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan, pedoman, arahan, dan petunjuk hidup di dunia. Jika seseorang tidak mempunyai pandangan hidup, maka ia akan tidak jelas dalam hidupnya, karena kalau kita mempunyai pandangan hidup, maka kita akan mempunyai pedoman, arahan, atau petunjuk untuk menjalani hidup di dunia ini menjadi lebih baik.
Pandangan hidup juga bisa diartikan yaitu dengan mengagumi seseorang dan mencontoh kebaikan orang tersebut, maka secara tidak langsung kita bisa menganggap orang tersebut menjadi salah satu  pedoman hidup kita. Misalnya jika kita mengagumi sesorang karena keberhasilannya dalam bekerja. Maka kita akan mencontoh kebaikan dan hal-hal positif yang dilakukan orang tersebut, agar kita bisa menjadi sukses seperti mereka atau menjadi lebih baik lagi dengan cara kita sendiri dan tetap menjadi diri kita sendiri.
Pandangan hidup juga mempunyai unsur-unsur yaitu cita-cita, kebajikan, usaha, keyakinan / kepercayaan. Yang dimaksud dengan cita-cita adalah suatu keinginan manusia yang dapat dicapai dengan usaha, kerja keras dan perjuangan. Sedangkan tujuan yang akan dicapai adalah kebajikan. Kebajikan itu adalah segala sesuatu hal yang baik yang dapat membuat manusia hidup  makmur, bahagia, damai dan tentram. Usaha atau perjuangan adalah kerja keras yang dilandasi keyakinan/kepercayaan. Keyakinan/kepercayaan diukur dengan kemampuan akal, kemampuan jasmani, dan kepercayaan kepada Tuhan.