Aku
Berkaca
Pengarang:
Chairil Anwar
Ini
muka penuh luka
Siapa
punya ?
Kudengar
seru menderu
dalam
hatiku
Apa
hanya angin lalu ?
Lagu
lain pula
Menggelepar
tengah malam buta
Ah.......!!
Segala
menebal, segala mengental
Segala
tak kukenal .............!!
Selamat
tinggal ................!
Sebutir
Debu
Pengarang:
Kahlil Gibran
Adalah
sebutir debu…
Meringkuk
kedinginan… Mengitari bumi tanpa rona
Selimut
kecilnya tersapu angkasa
Rajut
penghangatnya tercerai tanpa janji
Rindu…
Masih
mendekam dalam setiap detak jantung nafasnya
Walau
hanya sekedar sapa.. hanya sebatas tanya
Di
setiap penat letih dan keterpurukan nya
Dia
berlari di tengah gurun gulita
Mengais-ais
oase kehangatan
Bintang
di tirai angkasa, tak cukup untuk menghangatkan nya
Mencari
bulan, namun raib
Mentari,
ia pun terlelap.
Biarkan....
Biarkan
saja dia sendiri
Menikmati
renungan gulita
Biarkan
sang raja malam mengurungnya
Memenjarakan
nya dalam gelap
Menghangatkan
diri sendiri di perapian bagaskara.
Sunyi
Pengarang:
Asrul Sani
Kuketuk
pintu masaku muda
hendak
masuk rasa kembali
taman
terkunci dibelan pula
tinggallah
aku sunyi sendiri.
Kudatangi
gelanggang tempat menyebung
masa
bujang tempat beria
kulihat
siku singgung menyinggung
aku
terdiri haram disapa...
Teruslah
aku perlahan-lahan
sayu
rayu hati melipur
nangislah
aku tersedan-sedan
mendengarkan
pujuk duka bercampur.
Kudengar
bangsi memanggil-manggil
tersedu-sedu,
dayu mendayu
tersalah
aku diri terpencil
badan
dilambung gelombang rindu.
Duduklah
aku bertopang dagu
merenung
kupu mengecup bunga
lenalah
aku sementara waktu
dalam
rangkum kenangan lama.
Rupanya
teja serasa kulihat
suaramu
dinda rasakan kudengar
dinda
bersandar duduk bersikat
aku
mengintip ombak berpendar.
Imbau
gelombang menyembahkan lagu
kepada
bibirmu kesumba pati
fikiranku
melayang ke padang rindu
walaupun
dinda duduk di sisi.
Pagi
Pengarang:
Armijn Pane
Pagi
telah tiba, sinar matari
Memancar
dari belakang gunung,
Menerangi
bumi, yang tadi dirundung
Malam,
yang sekarang sudahlah lari.
Alam
bersuka ria, gelak tersenyum,
Berseri-seri,
dipeluk si raja siang.
Duka
nestapa sudah diganti riang,
Sebab
Sinar Bahagia datang mencium.
Mari,
O Jiwa, yang meratap selalu
Dalam
rumahmu, turutlah daku.
Apa
guna menangisi waktu yang silam?
Mari,
bersuka ria, bercengkerema
Dengan
alam, dengan sinar bersama-sama,
Di
bawah langit yang seperti nilam.
Cermin
Pengarang:
Korrie Layun Rampan
Ada
sejuta serigala
Memburu
di cermin wajah kita
Lapar
dan ganas
gagak-gagak
menyanyi ke arah rimba
Seperti
menyayat-nyayat daging kita
Matahari
meratap
Dalam
remukan-remukan cermin dingin
Telaga
mengaca darah hitam
Ada
luka yang mengucur darah
Kita
ditinggal ngungun bayang cermin ini
Serigala-serigala
melulung
Gagak-gagak
berteriak
darah
tetap mengucur dari luka demi luka
Kita
tiba-tiba pecah dan tersentak dalam cermin wajah kita
(O,
yang ada kita hanya berteriak "aduh" dan meraba-raba)
I chose poetry Aku
Berkaca by Chairil Anwar because it gives a message to forget the past. The
poet wants to convey to the reader that the dark past man ought to be a lesson
for the future. It can be seen from the verses of poetry.
Source
:
No comments:
Post a Comment